Barabai bebas banjir???

Sudah beberapa bulan terakhir ini, kota Barabai dilanda banjir. Memang tidak tinggi, tapi waktunya lama dan terjadi beberapa kali. Hal ini dianggap oleh pemimpin daerah ini sebagai suatu keberhasilan menanggulangi (mengurangi) banjir, seperti diungkapkan pada saat pidato Hari Aksara Internasional yang dipusatkan di kota Barabai.

Tapi kenyataan yang terjadi tidak seperti perkataan beliau. Banjir terus mengancam kota Barabai. Mungkin di wilayah kota hanya sebentar (hanya lewat), tapi berbeda dengan ‘pahumaan’ para petani (termasuk milik orang tua saya).

Karena kedalaman air yang setinggi lutut orang dewasa dan hal itu berlangsung lama, menyebabkan benih yang telah disemai (taradak dan lacak) membusuk. Seminggu yang lalu sebenarnya pahumaan kuitan sudah pinda kawa di humai, tapi karena lacaknya yang banyak matian dan yang hidup daunnya manguning, akhirnya diputuskan untuk mamupuk dahulu (padahal pupuk pun langka di pasaran). Tapi kenyataan bicara lain, tidak sempat dilakukan pemupukan, air kembali datang, sehingga merendam lacak tadi dan akhirnya bisa dipastikan, semuanya membusuk terendam air.

Mungkin di daerah lain hal ini tidak terasa. Tapi ditempat orang tua saya yang hanya mengandalkan penghasilan dari ‘bahuma’, akan menjadi berbeda. Sayang beribu sayang, pemerintah daerah melalui instansi yang berwenang, tidak pernah mencoba memantau perkembangan tersebut.

Saya hanya berharap, pemerintah daerah bisa memberikan solusi bagi masyarakat yang kebetulan pahumaannya terendam terus menerus selama banjir akhir tahun tadi hingga awal tahun ini.

One Response

  1. racheedus 6 Februari 2009

Tinggalkan Balasan